Jangan pernah berharap anak bisa melupakan kejadian traumatik yang menimpanya. Yang bisa kita lakukan adalah mengatakan bahwa perbuatan yang dilakukan terhadapnya itu salah. Kesalahan harus secara tegas ditujukan kepada pelaku. Sebuah status yang ditulis oleh seseorang begitu menarik perhatian saya. “Sore ini pengen marah/ memaki tapi kok gak nemu kata yang tepat apa *satu lagi kasus pelecehan seksual terhadap anak* Grrrr…” begitu tulisnya di wall yang ter-share ke beranda saya.

Coreng Dunia Pendidikan

Seorang ibu, yang juga psikolog itu, tak biasanya menulis status demikian, pasti ada yang serius. Setelah scrolling lebih dalam, ketemu jawabannya, terjadi pelecehan seksual pada anak balita. Peristiwa memilukan itu terjadi Maret lalu, dan baru terpaparkan di media seminggu lalu. Seorang siswa TK sekolah internasional di kawasan Jakarta Selatan mendapat pelecehan seksual. Pelakunya tak lain adalah petugas kebersihan di sekolah tersebut.

“berikan anak tambahan les pelajaran bahasa asing melalui lembaga les bahasa asing online di rumah. Agar semua kegiatannya bisa terpantau dengan baik oleh orangtua. Sehingga terhindar dari orang asing yang bisa saja mencelakainya.”

Banyak pihak, terutama para orangtua, menganggap ini adalah hal yang sangat serius dan harus ditanggapi dengan sangat serius pula. Bagaimana mungkin, sekolah internasional dengan sistem keamanan yang ketat “kebobolan” oleh kasus ini. Mereka pun berpikir, jika sekolah yang keamanannya ketat saja bisa kebobolan, bagaimana dengan sekolah atau tempat lain? Wajar jika kemudian banyak orangtua yang resah, takut anak-anak mereka mengalami hal serupa.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Niam Sholeh, mengatakan bahwa ini adalah permasalahan serius yang telah mencoreng dunia pendidikan. Korban, kata Asrorun, mengalami trauma berat yang mengganggu kondisi fisik dan psikologisnya. “Akibat trauma, ia tak mau sekolah karena takut,” ucap Asrorun.

KPAI telah meminta pihak sekolah untuk bertanggung jawab, terutama dalam hal rehabilitasi fisik dan psikis korban. “Harus ada investigasi internal terkait standar keamanan,” kata Asrorun yang berjanji bahwa KPAI akan terus mengawal proses hukum kasus ini. Asrorun juga berharap polisi mengusut tuntas kasus tersebut dan melakukan tindakan hukum untuk memberikan efek jera sehingga tidak ada kasus-kasus berikutnya.

Tags:
About Author: Theaust